Mengukur Halal dan Haramnya Facebook

Mengukur Halal dan Haramnya Facebook

Pertanyaan :
 Ustadz, akhir-akhir ini marak berita tentang keharaman facebook. Padahal, banyak sekali yang menggunakan facebook, yang salah satu tujuannya untuk menjalin silaturahmi dan saling tukar ide, pikiran, informasi dan pengalaman. Berkenan dengan itu, kami mohon penjelasan tentang hukum facebook tersebut.
Jawaban :
 Wa alaikumus salam. Facebook adalah aplikasi online yang memberikan layanan pertemanan, atau sering disebut sebagai jejaring sosial. siapapun bisa menjadi anggota atau menggunakan layanan facebook ini, tanpa dipungut biaya ( abaikan kuota :v ). Dengan facebook, seorang dapat berkomunikasi dengan orang lain yang telah menjalin pertemanan di facebook, bahkan dengan berbagai cara sekaligus. Bisa melalui kotak pesan seperti e-mail, obrolan dua arah (chatting), informasi stasus terkini, komentar status, percakapan wall to wall, dll.
 Lalu, bagaimana hukum islam memandang facebook? Facebook merupakan salah satu produk keberhasilan teknologi canggih di zaman modern ini. Facebook, termasuk dalam persoalan muamalah duniawiyah. Oleh karena itu, berlaku kaidah fikih yang artinya :
 “Hukum asal dalam permasalahan muamalah adalah mubah (boleh), tidak dilarang kecuali yang diharamkan oleh Allah.” (AL Qawaid An Nuraniyyah Al Fiqhiyyah oleh Ibnu Taimiyah)
 
 ” Hukum asal segala sesuatu adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang menunjukan ketidak bolehannya” (Irsyadul Fuhul oleh Imam Asy Syaukani, 248).
 
 “Segala perkara tergantung niatnya.” (Al Asybah wa An Nazhair oleh Ibnu Nujaim, hal. 39)
 
 Dalam menghukumi facebook, harus dibedakan antara dua hal. Pertama, hukum facebook itu sendiri, dan kedua, perbuatan yang dilakukan melalui facebook. Yang pertama, Facebook tidaklah lebih dari sebuah benda, alat atau objek. Sebagai benda, ia tak ada bedanya dengan alat-alat lain seperti komputer, pisau, pena, handphone, dll. Ia bisa digunakan untuk kepentingan apa saja. Pisau contohnya, ia bisa digunakan sebagai peralatan memasak,menyembelih hewan kurban, tetapi bisa juga digunakan sebagai alat tindak kejahatan pembunuhan. Hukum pisau sebagai sebuah benda adalah mubah.
 Hukum pisau akan berubah sesuai dengan fungsi atau perbuatan yang memakainya. Ia bisa menjadi wajib, jika digunakan sebagai alat untuk mengerjakan yang wajib, bisa sunnah jika digunakan mendukung pekerjaan sunnah, bahkan bisa menjadi haram jika digunakan untuk sesuatu yang haram.
 Dapat disimpulkan dari kaidah-kaidah di atas, maka hukum facebook tergantung dengan niat penggunanya sendiri. Jika digunakan untuk menjalin silaturahmi, menebarkan kebaikan, berdakwah melalui internet, maka facebook menjadi wasilah yang diperbolehkan (mubah) atau bahkan dianjurkan (mustahab) karena baiknya perbuatan itu.
 Kesimpulan, hukum facebook tergantung pada penggunanya. Oleh karena itu, bagi yang menggunakan fasilitas facebook dihimbau agar memanfaatkan situs ini untuk kepentingan menggali informasi, menjalin, dan menguatkan silaturahmi, serta menyebarkan dakwah isalam. Di samping itu, perlu juga diperhatikan agar facebook dimanfaatkan secara efektif dan efisien agar tidak menjerumuskan pada perbuatan yang berlebih-lebiahn lagi sia-sia yang dapat melalaikan penggunanya dari kewajiban-kewajibanya, baik kewajiban kepada Allah maupun kewajiban kepada sesama manusia seperti shalat, bekerja, sekolah, dll.